Jelang 1 Suro, Pemandian Sumur Amber Blitar Ramai Didatangi Pengunjung untuk Ritual

Ritual jelang 1 Muharram atau Suro (Foto / Istimewa) Ritual jelang 1 Muharram atau Suro (Foto / Istimewa)

BLITAR : Penanggalan 1 Muharram 2023 atau tahun baru Islam selalu bertepatan dengan 1 Suro dalam masyarakat Jawa. Di sejumlah daerah, menjelang 1 Muharram 1445 H atau 1 Suro disambut dengan upacara ritual. Seperti halnya suasana di pemandian mata air Sumur Amber, Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Jelang 1 Suro atau 1 Muharram yang jatuh pada 19 Juli 2023, sejumlah orang mulai berdatangan untuk beritual.

Salah satunya Bagus Gimbal (32), warga Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Bagus yang datang bersama istrinya mengaku rutin melakukan ritual mandi keramas di Sumur Amber Kandangan. Ritual itu dia lakukan setiap jelang 1 Muharram atau 1 Suro. “Dan sudah dua tahun terakhir ini, yang mengeramasi rambut gimbal ini istri saya,” tutur Bagus.

Pemandian Sumur Amber Kandangan merupakan sebuah sumber mata air besar. Lokasi air yang mengalir deras itu berada di bawah dua pohon beringin tua. Dalam dua tahun terakhir ini, pemandian alam itu telah disulap menjadi wisata desa.

Selain istrinya, ia juga mengajak beberapa temannya. Bagus mengaku baru saja melakukan touring dari pulau Sulawesi. "Yang ikut saya ajak ke pemandian Sumur Amber Kandangan, teman dari Purbalingga Jawa Tengah dan Kalimantan," tuturnya.

baca juga : Tradisi Idul Adha di Malang dan Probolinggo, Hewan Kurban Diarak Keliling Sebelum Disembelih

Begitu tiba di lokasi pemandian, Bagus Gimbal langsung mengeramasi rambutnya. Dibantu oleh istrinya, rambut gimbal model rasta dengan panjang sepunggung itu basah oleh air bercampur buih sampo. "Seperti menjamas keris tiap bulan Suro," katanya.

Selain keramas, Bagus mengaku juga rutin melakukan ritual sebelum dan sesudah touring vespa ke luar kota. Dalam ritualnya, Bagus mengaku memanjatkan doa, agar selama perjalanan diberi keselamatan. "Ritual itu sudah saya lakukan sekitar 15 tahun," katanya.

Kepala Desa Kandangan Nurdiyanto membenarkan pemandian Sumur Amber menjadi langganan ritual setiap jelang 1 Muharram atau 1 Suro. Mereka yang datang biasanya untuk berendam. "Biasanya mereka datang di atas jam 12 malam," katanya.

Tak seperti yang ada dalam pikiran banyak orang. Air Sumur Amber Kandangan di malam hari, kata Nurdiyanto justru terasa hangat. Menurut dia, secara ilmiah ada yang pernah menjelaskan. Bahwa hangatnya air disebabkan munculnya ion positif yang berasal dari sentuhan akar beringin dengan air pemandian.

“Karena itu selain untuk ritual, banyak juga yang berendam di Sumur Amber untuk kepentingan terapi kesehatan,” ungkapnya.

baca juga : Mengenal Ater-Ater Ajhem Adhun, Tradisi Khas Masyarakat Bangkalan saat Idul Adha

Banyak warga yang datang karena sebelumnya mengeluhkan penyakit syaraf kejepit, stroke ringan, dan asma. Bahkan tidak sedikit sejumlah orang yang mengalami depresi atau stress, melakukan terapi berendam di Sumur Amber Kandangan. "Kalau yang untuk terapi kesehatan, biasanya datang pagi hari setelah salah subuh," ujar Nurdiyanto.

Lebih jauh Nurdiyanto bercerita tentang pengelolaan wisata Sumur Amber Kandangan. Wisata desa yang ramai dalam dua tahun terakhir ini dikelola melalui Bumdes. Dalam sehari jumlah kunjungan rata-rata mencapai 150-200 orang, dengan tiket masuk lokasi Rp 5.000 per orang. Pada weekend, yakni hari Sabtu dan Minggu jumlah kunjungan mencapai seribu orang.

"Saat ini pembenahan masih terus dilakukan. Harapannya tingkat kunjungan akan semakin meningkat," katanya.


(ADI)

Berita Terkait