Kementan Turunkan Tim dan Uji Lab Selidiki Wabah PMK di 4 Kabupaten di Jatim

Gubernur Jatim Khofifah ketika meninjau peternakan di Gresik yang sapinya terjangkit wabah kuku mulut  (Foto / Metro TV) Gubernur Jatim Khofifah ketika meninjau peternakan di Gresik yang sapinya terjangkit wabah kuku mulut (Foto / Metro TV)

SURABAYA : Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kementan) langsung menerjunkan tim dan uji laboratorium guna menyelidiki laporan wabah Penyakit Mulut Kuku (PMK) yang telah menyerang 1.247 ekor ternak sapi Jawa Timur(Jatim).

Dirjen PKH Nasrullah menegaskan, dua laboratorium utama, Balai Besar Veteriner Wates dan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya sebagai lab rujukan PMK telah dari awal aktif melakukan tracing kasus ini.  “Saat ini kami koordinasi dengan pemda Jawa Timur untuk melakukan lockdown zona wabah,” ujarnya.

Nasrullah menjelaskan, pada awalnya kasus ini diketahui setelah hasil pemeriksaan PCR menunjukkan positif PMK, dan pihaknya telah melakukan rapat kordinasi bersama Gubernur Jatim dan 4 bupati wilayah kasus PMK. Adapun langkah darurat yang disiapkan untuk penanganan sebagai berikut:

Pertama, penetapan wabah oleh Menteri Pertanian berdasarkan surat dari Gubernur dan rekomendasi dari otoritas veteriner nasional sesuai dengan PP No.47/2014. Kedua, pendataan harian jumlah populasi yang positif PMK. Ketiga,pemusnahan ternak yang positif PMK secara terbatas.

Keempat penetapan lockdown zona wabah tingkat desa/kecamatan di setiap wilayah dgn radius 3-10 km dari wilayah terdampak wabah. Kelima melakukan pembatasan dan pengetatan pengawasan lalu lintas ternak, pasar hewan dan rumah potong hewan.

Baca juga : Tahanan Kasus Pembunuhan Bidan di Situbondo Mati di Rumah Sakit

Keenam,melakukan edukasi kepada peternak terkait SOP pengedalian dan pencegahan PMK. Langkah ketujuh, menyiapkan vaksin PMK. Selanjutnya, Langkah kedelapan dan kesimbilan, pembentukan gugus tugas tingkat provinsi/kabupaten dan pengawasan ketat masuknya ternak hidup di wilayah-wilayah perbatasan dengan negara tetangga yang belum bebas PMK oleh Badan Karantina Pertanian.

Nasrullah menjelaskan, sejak Jumat, tim pusat dan daerah sudah bekerja di lapangan. Harapannya dapat melokalisir zona penyakit dan tidak menyebar ke wilayah sentra sapi lainnya.

“Masyarakat kita mohon bantuan dan kerja samanya untuk tidak memindahkan atau memperjualbelikan sapi dari daerah wabah ke daerah yang masih bebas. Kita tangani bersama dan lokalisir wilayahnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, penyakit PMK ini telah menjadi wabah atau outbreak di wilayah Jatim.PMK tersebut telah menyerang 1.247 hewan jenis sapi di empat Kabupaten yaitu Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Mojokerto. PMK adalah penyakit hewan menular akut yang menyerang ternak sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan tingkat penularan mencapai 90 sampai 100 persen dan dianggap bisa menimbulkan kerugian ekonomi sangat tinggi.

Tanda klinis wabah tersebut adalah demam tinggi (39-410c), keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar, napas cepat, produksi susu turun drastis dan menjadi kurus.


(ADI)

Berita Terkait