6 Fakta Dibalik Pembuatan Soundtrack Film KKN di Desa Penari

Pencipta lagu Dhat yang dijadikan soundtrack film KKN Desa Penari  ( Dari kiri, Matoha, Hamida Madu Kinanti dan Hanifa Madu Wanandi) Pencipta lagu Dhat yang dijadikan soundtrack film KKN Desa Penari ( Dari kiri, Matoha, Hamida Madu Kinanti dan Hanifa Madu Wanandi)

SURABAYA : Film KKN di Desa Penari menjadi salah satu film terlaris di Indonesia. Sebanyak 8 juta penonton sejak film itu ditayangkan di bioskop Selain filmnya yang mistis berdasarkan kisah nyata, lagu yang menjadi soundtrack film juga dianggap membawa film ini kian seram.

Berikut sejumlah fakta dibalik pembuatan lagu Dhat Soundtrack Film KKN di Desa Penari. Fakta ini digali dari sang pencipta lagu tersebut yakni keluarga Matoha asal Malang dan berbagai sumber.

Mangusung Lagu Tradisonal Jawa

Jika didengarkan seksama, lagu Dhat yang menjadi Soundtrack Film KKN di Desa Penari ini mengusung lagu tradisional Jawa, lagu berjudul Dhat ini juga mengangkat bahasa Jawa dan bahasa sansekerta dari sisi liriknya. Sentuhan nada-nadanya juga mengusung musik Jawa dengan perangkat gamelan jadi pengiring lagunya.

Diciptakan Satu Keluarga di Malang

Lagu Dhat pada film KKN di Desa Penari sendiri dibawakan oleh Hamida Madu Kinanti atau yang akrab disapa Kinanti, perempuan kelahiran Kabupaten Malang. Dia diiringi dua anggota keluarganya yakni Matoha, sang ayah dan Hanifa Madu Wanandi.

Matoha mengatakan dia berkolaborasi dengan kedua anaknya, usai anak pertamanya mengajak untuk membuat soundtrack film KKN di Desa Penari. Saat itu disebutnya proses pembuatan lirik lagu Dhat memang mendadak, karena sang anak baru mengabari saat perjalanan pulang ke Malang dari Jakarta.

Lagu soundtrack KKN di Desa Penari sendiri diambil dari petikan cuitan akun Twitter Simple Man di Twitter. Menariknya, sang pencipta lirik lagu ini justru tak tahu bila lagu yang dibuatnya saat itu akan dijadikan soundtrack film.

"Kinanti nggak pernah pulang. Nah dia pulang pas satu bulan sebelum deadline project KKN Desa Penari. Lalu, saya buka akun twitter Simple man itu. Nah saya buat berdasarkan cerita di Simple Man itu," ujar Matoha.

Baca juga : Lokasi Asli Desa Penari Terungkap, Ini Sejarah Rowo Bayu Banyuwangi

Dhat Berarti Roh Suci

Matoha mengatakan Dhat merupakan roh suci. Sedangkan lirik-lirik lagu Dhat bercerita mengenai tingkah laku manusia yang tidak boleh semaunya sendiri terhadap seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Makhluk yang dimaksudkan di sini tak hanya makhluk yang kasat mata seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, melainkan juga makhluk tak kasat mata sebangsa jin.

"Manusia nggak boleh sembarangan bersama-sama makhluk ciptaan Tuhan, inti dari lagu Dhat itu sebenarnya manusia jangan seenaknya merasa paling baik sempurna," ujarnya.

Pria yang juga guru kesenian di SMAK Yos Sudarso Kepanjen ini mengaku, tak mengetahui pasti lokasi dimana cerita yang dimaksudkan akun Simple Man di Twitternya. Namun dari penafsiran hasil membacanya kuat dugaan itu masih berada di tanah Jawa. Sehingga ia memutuskan mengedepankan pesan moral dari cerita akun Simple Man untuk lagi yang dibuatnya.

"Yang saya tangkap itu pesan moral yang ada di dalam Simple Man. Saya tidak memperhatikan itu Banyuwangi atau mananya, tapi lebih pada cerita yang dimaksud abstrak itu, saya coba kupas sesuai dengan yang saya ngerti, bahwa itu kejadian yang dimaksud (cerita KKN di Desa Penari) tidak lepas dari menurut saya asal usul tanah Jawa," katanya.

Menurutnya, sebagai penerus tanah Jawa sudah seharusnya manusia di manapun harus menghormati adat istiadat dan kearifan lokal di setiap daerah. Pasalnya setiap daerah tentu memiliki kearifan lokal dan pantangan yang berbeda-beda. "Kita sebagai penerus yang di tanah Jawa yang menghormati yang ada di Jawa. Jadi pengertiannya bukan Banyuwangi tapi Jawa," katanya.

Baca juga : Mengerikan, Fakta Nyata yang Tidak Diceritakan di Film KKN Desa Penari

Direkam Malam Jumat Kliwon

Matoha mengatakan semua seperti serba kebetulan. Usai membaca postingan Twitter Simple Man dia pun langsung terinsipirasi dan membuat lirik dan sekaligus musiknya. Kebetulan, proses rekaman untuk lagu sampel yang dikirimkan ke MD Musik dilakukan pada malam Jumat kliwon.  

Menariknya rekaman lagu simpel untuk demo yang dikirim dikerjakan seadanya dengan menggunakan smartphone. Proses pengerjaan lagu dan nada-nadanya pun dilakukan di Balai RT setempat. Karena di tempat tersebut terdapat perangkat alat musik gamelan yang sengaja dipinjam oleh Matoha dan anak keduanya dari sekolah tempatnya mengajar.

"Rekaman bukan di studio, rekaman di balai RT, kebetulan kami punya gamelan dikasih dari Gunung Kawi. Di situ gamelannya, kami bertiga rekaman, pertama nyari tempo (lagu), kemudian kedua pengisi suara gendang. Semua proses dibantu anak-anak," katanya.

"Akhirnya siap, syairnya ya cepat hafal, karena ngarang sendiri. Malam itu juga kami setelah membuat syair malamnya, kami coba rekaman sampai hampir jam 3 sampai 4, hampir subuh. Rekamannya lama, bikinnya cepat 30 menit, jadi drafnya. Langsung kami coba rekaman," ujarnya.

Rekaman Sempat Diulang Gegara Pesawat TNI AU Melintas

Hanafi Madu Wanandi, kreator lagu berjudul Dhat mengatakan proses rekaman untuk soundtrack lagu diawali dengan ritual syukuran dengan mengundang tokoh desa dan tokoh masyarakat di Gunung Kawi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk izin dan rasa syukur atas lagu yang telah diciptakan.

"(Lagu soundtrack KKN di Desa Penari direkam) setelah itu selang 1 bulan ada among-among siangnya, terus malamnya ya (rekaman soundtrack-nya) satu malam itu baru. Tidak butuh waktu berhari-hari, rekamannya malam-malam terus," tuturnya.

Hanafi mengisahkan selama proses rekaman banyak hal unik terjadi, salah satunya harus menunggu berulang kali akibat pesawat TNI AU yang melintas karena latihan. Mengingat kondisi ruangan di Balai RT yang tidak kedap membuat suara dari luar ruangan masuk ke lagunya.

"Di balai RT itu kan ruangannya nggak kedap, jadi kita nunggu ada pesawat tentara yang latihan malam-malam. Kita tunggu kok nggak selesai-selesai, soalnya suaranya masuk di mic. Kita nunggu sampai selesai ya, akhirnya selesainya sampai pagi dari jam 9 malam sampai-sampai jam 2 pagi, yang dipakai sampai sekarang," katanya.

Tak Mau Ada Stigma Mistis

Meski menjadi sountrack film seram dan mengandung mistis, Matoha dan kedua anaknya enggan jika lagu Dhat itu diidentikan dengan mistis. Metoha menegaskan lantunan alat musik Jawa dan lengkingan suara sinden, bukan harus diidentikkan dengan hal mistis.

"Kami berusaha itu bukan mistis, beda mistis dengan seram. Kalau orang lain mendengarkan suara itu mungkin mistis, bahkan mendengarkan gamelan apapun dianggap mistis, ini yang kami ingin diubah. Sebetulnya jangan dianggap gamelan itu mistis, tapi secara tidak sadar yang menurut saya lakukan itu orang menganggapnya mistis, dan terbukti terkenalnya karena mistis," katanya.

"Tapi sebetulnya bukan karena mistis ya bisa mendekati mistis tapi seru dan seramnya sesuai pitutur diliriknya. Kami menyesuaikan lirik yang ini. Kalau itu dianggap mistis ya nggak apa-apa. Sebetulnya lebih pada seram begitu saja," katanya.


(ADI)

Berita Terkait