Dinodai Kericuhan, Silat Surabaya Gagal Juara Umum Porprov

 Ketua IPSI  Surabaya, Bambang Haryo Soekartono bersama atlet peraih medali Porprov/ist Ketua IPSI Surabaya, Bambang Haryo Soekartono bersama atlet peraih medali Porprov/ist

LUMAJANG: Kericuhan dan kontroversi dewan juri membuat kontingen silat Surabaya gagal meraih gelar juara umum Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur VII/2022. Tim Silat Surabaya harus puas berada di posisi kedua.

Hingga hari terakhir pertandingan cobor silat, Kamis 30 Juni 2022,  total kontingen silat Surabaya mendulang 2 emas, 3 perak dan enam perunggu. Hanya selisih satu emas dari juara umum cabor silat yang diraih Kabupaten Bangkalan dengan 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu.   

Seharusnya, gelar juara umum bisa jatuh ke pelukan kontingen Surabaya jika dewan juri dan technical delegate tidak membuat keputusan kontroversial saat pertandingan final di kelas C putra.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Gelora Wira Bhakti Lumajang, Rabu kemarin, 29 Oktober 2022, pesilat Surabaya sebenarnya sudah dinyatakan menang oleh dewan juri setelah pesilat Jember terkena diskualifikasi akibat melakukan pelanggaran.

BACA: Ricuh Lagi, Tim Sepakbola Porprov Kota Malang Baku Hantam Lawan Jombang

Namun kubu Jember tidak terima dan melakukan protes hingga terjadi kericuhan. Kursi berterbangan ke ara meja juri. Tak lama kemudian, keputusan berubah, pesilat Surabaya dinyatakan kalah. Jika keputusan awal tidak berubah dipastikan Surabaya menjadi juara umum di cabor pencak silat.

Menaggapi hasil akhir perolehan medali ini, Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Surabaya,   Bambang Haryo Soekartono tetap mengapresiasi perjuangan para atletnya meski gagal merebut gelar juara umum.

"Seperti semua tahu, sempat ada kejadian yang mengubah hasil yang melibatkan Surabaya. Sebab, dewan juri telah menetapkan kita menang. Tapi, karena mendapat protes dan sempat ricuh, diobrak-abrik. Mungkin dewan juri atau technical delegate takut, dan keputusan berubah," sebut Bambang Haryo.

Kontingen Silat Surabaya sebenarnya juga sempat melakukan protes terkait keputusan yang berubah. Namun caranya dengan menunjukkan bukti rekaman pertandingan, bukan membuat kericuhan yang mengintimidasi juri maupun wasit.

"Kita sudah menunjukkan rekaman video pertandingan. Dan memang teknik kita lebih baik. Tapi katanya sudah terlambat, " ucap BHS, panggilan akrab Bambang Haryo.

 


(TOM)

Berita Terkait