Mengenal Tradisi Unik Blitar, Pengantin Tebu

Proses tradisi tahunan pengantin tebu di Blitar (Foto / Istimewa) Proses tradisi tahunan pengantin tebu di Blitar (Foto / Istimewa)

BLITAR : Pabrik gula PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Desa Rejoso Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar menggelar ritual pengantin tebu, Selasa 15 Juni 2021. Ritual sejak zaman kolonial ini digelar sebagai penanda dimulainya musim giling tebu selama 130 hari ke depan.

Ritual berlangsung di lokasi produksi pabrik gula. Sejumlah orang berpakaian adat Jawa. Para lelaki mengenakan beskap, lengkap dengan keris terselip di pinggang, serta blangkon di kepala.
Sedangkan para perempuan menghias diri dengan baju kebaya. Rambut mereka disanggul.

Terlihat setandan pisang bercampur bunga setaman. Fungsinya sebagai sesaji. Di sebuah bokor, asap dupa tidak berhenti mengudara. Karena masih dalam situasi pandemi covid-19, protokol kesehatan diperlakukan secara ketat. "Ini pertama kalinya menggelar tradisi manten tebu. Kegiatan ini menandai masuknya musim giling tahun 2021," tutur Factory Manager PT RMI, Heri Widarmanto.

Bak sepasang mempelai manusia, dua batang tebu dihias sedemikian rupa. Sebatang tebu yang dianggap sebagai tebu kakung (tebu pria) disemati nama Denmas Anggoro. Sedangkan tebu wanita bernama Nimas Jenat. Mengintip Pabrik Rapid Test Kimia Farma di Bali Kedua nama merujuk pada Selasa Pahing, hari Temanten Tebu selalu digelar. Dalam bahasa Jawa kuno Selasa disebut Anggoro. Sedangkan Pahing merupakan Jenat.

 BACA JUGA : Update Covid-19 Jatim 15 Juni 2021: 499 Positif, 245 Sembuh, 41 Meninggal

"Karenanya dinamakan pasangan Anggoro-Jenat," kata Heri mengutip keterangan pranatacara atau pembawa acara.

Sepasang laki laki dan perempuan berjalan paling depan. Dua batang tebu yang sudah dipertemukan sekaligus dinikahkan tersebut, dibawa mereka. Di atas bentangan karpet bermotif batik, keduanya berjalan menuju mesin penggilingan tebu. Sejumlah laki laki lain dan perempuan berjalan mengiringi. Di antara barisan terlihat dua orang mengusung payung bertumpuk tiga. Dipandu seorang laki laki tua yang bertindak sebagai tetua sekaligus juru kunci acara, dua batang tebu dilempar ke dalam mesin giling yang bergerak. Dalam sekejap berubah menjadi manis air tebu dan sepahan.

"Digelarnya tradisi ini juga sebagai ungkapan syukur dimulainya musim giling. Juga diharapkan ke depan bisa menjadi destinasi wisata budaya," kata Heri.

Musim giling di PT RMI ditargetkan selesai dalam 130 hari. Penggilingan tebu yang dimulai 15 Juni, dijadwalkan rampung pada akhir bulan Oktober. Menurut Heri, kebutuhan giling maksimal per hari sebanyak 1.000 truk atau 8.000 ton. Untuk aktivitas ini, tiket timbang tebu yang dikeluarkan setara kebutuhan 1.000 truk tebu. Sedikit berbeda dengan tahun 2020. Pada musim giling tahun 2021, kuota pengiriman tebu dari petani sesuai kontrak, yakni maksimal 600 truk per hari. Pada tahun ini pabrik juga hanya menerima tebu lokal. Pos luar kota dari wilayah Lumajang, Probolinggo dan Banyuwangi tidak dibuka.

"Sedangkan kuota koperasi 300 truk dan pedagang 108 truk," ujar Heri.

Sementara untuk kelancaran musim giling, PT RMI juga meluaskan daya tampung parkir kendaraan, yakni terutama truk pengangkut tebu. Pabrik telah menyiapkan areal berkapasitas maksimal 400 unit truk dengan jarak sekitar 6 kilometer dari lokasi giling. "Ini salah satu upaya mencegah antrian panjang dan kemacetan di jalan," katanya.

 


(ADI)

Berita Terkait