Tersandung Dugaan Pelecehan Seksual, Eks Rektor Unipar Jember Tetap Mengajar

Ilustrasi / Medcom.id Ilustrasi / Medcom.id

JEMBER : Mantan rektor Universitas IKIP PGRI Argopuro (Unipar) Jember berinisial RS, yang telah mengundurkan diri dari jabatannya akibat tersangkut dugaan pelecehan seksual seorang dosen, masih aktif mengajar. RS aktif mengajar sebagai dosen di Pascasarjana Unipar Jember.

"Beliau mengajar di Pascasarjana mengampu materi kuliah media pembelajaran. Beliau hanya mengundurkan diri sebagai rektor, tapi masih dosen," ucap Kepala Biro III Unipar, Dr Ahmad Zaki Emyus, Selasa 22 Juni 2021.

Zaki mengatakan, sejauh ini belum ada sanksi yang turun dari lembaga maupun yayasan yang membuat posisinya sebagai dosen diganti atau ditangguhkan. "Yang bersangkutan masih dosen biasa. Terkait masalah sanksi dan sebagainya, saya masih belum terima (informasi) dari Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Unipar Jember, apalagi sebagai seorang rektor. Yang jelas pengajuan pengunduran diri," katanya.

Namun, saat ini kondisi perkuliahan di Unipar memang sedang libur sesuai dengan jadwalnya. Pandemi covid-19 membuat kegiatan perkuliahan dialihkan ke metode daring atau online. "Untuk aktifnya (mengajar), beliau saat ini kan masih libur tidak ada perkuliahan," ujarnya.

BACA JUGA : Jadi Tersangka Pesta Narkoba, Kades Jember : Saya Dapat Sabu dari Oknum Polisi

Sebelumnya, RS tersangkut kasus dugaan pelecehan seksual dengan mencium salah seorang dosen saat mengikuti diklat PGRI di Tretes, Kabupaten Pasuruan. Imbas dari kasus tersebut, RS akhirnya mengundurkan diri sebagai rektor pada 17 Juni 2021 lalu. Pihak kampus dan yayasan pun telah menerima aduan suami korban yang merasa keberatan atas dugaan ulah yang dilakukan RS kepada istrinya berinisial H, yang juga dosen di Unipar.

Bahkan pihak kampus dan yayasan telah mempersilakan bila korban mengadukan hal tersebut ke kepolisian untuk diproses lebih lanjut. RS sebelumnya mengelak telah melakukan perbuatan itu kepada dosen Unipar, sebagaimana yang beredar dan telah diberitakan di sejumlah media. Menurutnya, ada indikasi kasus ini sengaja dipolitisasi untuk kepentingan pihak tertentu. Dia menegaskan belum sempat mencium dosen perempuan tersebut dan telah meminta maaf kepada dosen berinisial H.

Namun, dia telah meminta maaf secara langsung atas dua kejadian tersebut kepada dosen tersebut. Dia mengaku salah telah melakukan hal yang dianggap kurang etis. "Saya pun minta maaf dan keluar. Tidak ada sampai ada paksaan atau lebih dari itu. Saya merasa tidak adil. Bahkan ada yang lebih berat dari saya kasusnya kok tidak diproses," ucapnya.

Dirinya juga mengaku legowo mengundurkan diri sebagai rektor Unipar atas tindakan dugaan pelecehan seksual yang dilakukannya. "Saya mengakui khilaf dan sudah meminta maaf kepada yang bersangkutan (korban). Diminta mundur saya tidak masalah, monggo silakan itu wewenang PPLP. Tapi apakah PPLP sudah siap mencari pengganti saya. Ini kan Unipar sedang toto-toto (menata sistem pendidikan dan administrasi)," katanya.

 


(ADI)