Khofifah Minta Petani Padi Percepat Masa Tanam

Panen raya dua jenis padi varietas unggul di lahan pertanian milik Kelompok Tani (Poktan) Morodadi, Tanjung, Banjararum, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 7 April 2022/Humas Pemkab Malang. Panen raya dua jenis padi varietas unggul di lahan pertanian milik Kelompok Tani (Poktan) Morodadi, Tanjung, Banjararum, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 7 April 2022/Humas Pemkab Malang.

MALANG: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta seluruh petani padi di Jawa Timur mempercepat masa tanam sebelum memasuki musim kemarau. Sebab, saat ini masih terdapat hujan yang berfungsi mengairi area persawahan.

"Tolong ada percepatan masa tanam mumpung masih dapat air dan masih musim hujan kalau telat masa tanamnya  akan berdampak pada produksi total padi kita," kata Khofifah usai panen raya di lahan pertanian milik Kelompok Tani (Poktan) Morodadi, Tanjung, Banjararum, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 7 April 2022.

Khofifah mengungkapkan selain percepatan masa tanam, petani harus melakukan alih fungsi lahan. Misalnya, lahan sawah beralih menjadi lahan industri, maka lahan sawah harus dilindungi.

BACA: Fenomena Tawuran, Ini Kata Psikolog!

"Kita butuh peta yang lebih detail bagaimana lahan pertanian pangan berkelanjutan (LPPB) bisa terus terjaga. Saya berharap, bahwa Kabupaten Malang dan 14 daerah lain bisa menerapkan perda RT/RW agar menjaga area persawahan demi mewujudkan kedaulatan pangan," ujarnya.

Khofifah juga menyampaikan terima kasihnya kepada para petani yang telah bekerja keras memenuhi kedaulatan pangan di Jawa Timur. Hasil panen mereka bisa mensuplai 16 provinsi lain di Indonesia Bagian Timur.

"Kita tidak sekadar menghitung kebutuhan pangan masyarakat Jatim semata. Tapi kita juga menghitung ketercukupan pangan di 16 provinsi lain di Indonesia bagian  Timur. Karena, logistiknya hampir 80 persen disuplai dari Jawa Timur. Kepada seluruh para petani saya menyampaikan terima kasih atas kerja keras selama ini," ujar Khofifah.

Di sisi lain, Bupati Malang Sanusi menyatakan panen raya ini merupakan hasil inovasi kelompok tani yang dikelola bersama Kepala Desa untuk mencari bibit yang tepat untuk dikembangkan di Kab. Malang.

Ia mengatakan ketika musim kemarau tiba, jenis varietas yang ditanam adalah Brangbiji. Ketika memasuki musim hujan, varietas yang ditanam adalah hibrida maupun ciherang.

"Pada kondisi optimal, produksi padi hibrida bisa mencapai 14.8-15 ton per hektare. Namun, kali ini akibat perubahan iklim hanya mencapai 7 ton. Upaya ini terus kita lakukan lewat monitoring menggunakan pupuk organik sehingga nanti padi atau beras yang dihasilkan bisa organik pula. Nanti kita akan lihat jenis Padi yang unggul akan kita terus kembangkan,” ucap Sanusi.

 


(TOM)

Berita Terkait